Yogyapos.com (SLEMAN) - Dimana ada kemauan disitu ada jalan. Prinsip hidup itulah yang selalu dipegang oleh Karyadi. Pengusaha bahan kimia untuk penyamak kulit itu menjalani bisnis dengan bekal keihlasan. Tapi justru hal itulah yang membuatnya sukses seperti sekarang.
Karyadi menjalankan usahanya sejak 1999 lalu. Sebelumnya dia bekerja berpindah-pindah dari banyak perusahaan kimia. Karena tak ingin terus menerus menjadi ‘buruh’, Karyadi kemudian berpikir untuk membuat usaha sendiri.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-afnan-hadikusumo--muhammadiyah-perlu-regenerasi-untuk-calon-dpd-677
“Awalnya saya bingung. Tapi karena latar belakang akademis saya tentang teknik kulit, saya kemudian memilih usaha ini,” ujar Karyadi ketika ditemui yogyapos.com di kantornya, Kawasan Jalan Lingkar Timur Yogyakarta.
Dipaparkan Karyadi, dia mulai usaha dari distributor kecil. Dia mengambil bahan-bahan kimia penyamak kulit dari distributor besar dan menjualnya secara eceran ke perajin kulit .Semakin lama usahanya berkembang dan tumbuh menjadi distributor kecil. Modal utamanya adalah pelayanan yang baik dan tepat waktu kepada setiap pelanggan.
BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-nasyiatul-aisyiyah-konsisten-tingkatkan-kontribusi-bagi-nkri-447
Karyadi mengaku tak begitu susah untuk menjaring pelanggan. Sebab, saat bekerja sebagai karyawan , pekerjaannya tak jauh beda dengan yang dilakukannya sekarang.
“Ketika menjadi staf, saya tahu dimana tempat membeli bahan-bahan kimia, dan siapa saja pasar potensialnya. Berbekal pengetahuan itu saya menjalankan usaha,” ujar Karyadi.
Sampai saat ini, omzet usaha Karyadi sudah mencapai ratusan juta. Pelanggannya bukan hanya di Jogja, tetapi hampir seluruh Indonesia, khususnya Jawa Timur. Ia juga tidak menolak jika ada pelanggan yang akan membeli secara eceran .
BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-pemilu-2019-pp-ipm-jaga-netralitas-364
Karyadi mengaku, harga bahan-bahan kimia untuk penyamak kulit itu masih mahal untuk ukuran perajin kecil. Sebab, bahan-bahan itu masih diimpor dari luar negeri, karena pemerintah Indonesia belum membuat pabriknya. Bahan-bahan tersebut ada yang didatangkan dari Australia, Iran, India an beberapa negara lain.
“Karena harus diimport, maka ongkos kirimnya jadi mahal. Karena bahan ini dibeli dengan skala dollar. Padahal perajin kita sebagian besar kan masih UKM. Jadi saya maklumi kalau mereka membeli eceran,” jelas Karyadi.
BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-terpopuler-page-99
Selain menjual bahan kimia, sekarang ini Karyadi juga mencoba mengmbangkan usahanya dengan menyediakan produk kerajinan kulit seperti tas, jaket maupun bahan-bahan lain yang berbahan dasar kulit. Hanya saja, karena masih dalam tahap uji coba, belum banyak stok bahan yang disediakan.
Meski demikian, pihaknya menerima pesanan jika ada konsumen yang ingin memesannya. Untuk bahan tas wanita misalnya, Karyadi mematok harga antara Rp 300 ribu sampai Rp 400 ribu. Sedagkan untuk Jaket Kulit pihaknya mematok harga antara Rp 600 ribu sampai Rp 800 ribu.
“Tergantung juga kualitas kulit yang diinginkan,” ujar Karyadi. (Sulistyawan Ds)
